super junior

super junior

Kamis, 13 Oktober 2011

MY DESTINY - bag. 2

BAB II
AKHIR – 2

Sejak MOS, namaku mulai terkenal, ini semua gara-gara aku sering telat terlambat. Bahkan di hari sekolah. “ Nona Pemalas “, orang-orang menyebutku begitu... “SIAL.....”, runtukku. Mungkin karena aku kebanyakan ngelamun, KEDUBRAK.... bunyinya keras banget, orang-orang yang semula di kelas pada berhamburan keluar. “SIAL.... KENAPA SIAL BANGET... SIAPA SICH YANG TARUH EMBER SEMBARANGAN....”, ujarku marah-marah. Tiba-tiba pak Parman datang “ Maaf non, tadi bapak kebelet”, ujarnya minta maaf. Itu pak Parman penjaga sekolah. “Aduh... Bapak... Liat nich bajuku basah semua gimana nich...”, ujarku jengkel. Karena liat wajah pak Parman aku jadi kasihan. “Ya udah bapak gak pa pa... Maaf ya pak... tadi aku kasar”, ujarku minta maaf, gak enak marah-marah ma orang tua. Orang-orang yang semula menonton akhirnya pada pergi semua. Tapi bajuku basah semua kalau pulang gawat juga bentar lagi pelajaran Bu Winda, mana orangnya KILLER lagi, kalo gak masuk lagi bisa-bisa masuk daftar BLACK LISTnya lagi, dan wajib ikut kelas tambahannya. “OH NO.....”, Batinku menejerit.

“Duch... gimana nich... basah...”, omelku. “Nich pake bajuku”, ada orang yang nawarin. “Ya ampun baik banget tuch orang”, ucapku dalam hati. Saat kulihat... “ Ramon”, ucapku terkejut. “Emang begitu kamu menyebut seniormu”, ucapnya. “Maaf kak...”, ucapku memelas. Ramon membantuku bangun, ya ampun malunya aku bajuku basah semua. “Pakai nich baju, aku bawa dua kuk”, tawarnya. Aku hanya diam. Diapun melihatku yang diam “Kalo gak mau ya udah”, tawarnya lagi dan berencana meninggalkanku. Tanpa ragu lagi aku langsung mengambil baju dari tangannya, diapun hanya tersenyum. “ Kuk bisa kamu basah kayak gitu”, tanyanya. “Ah... itu”, ucapku bingung. “Itu terjadi karena aku gak hati-hati aja”, balasku. Kami berdua berjalan di koridor, banyak siswa yang cemburu melihat ku jalan berdua dengan Ramon, maklum Ramon juga salah satu MOST WANTED di SMU Cinta Bangsa. “Kak... mending aku jalan sendirian dech... gak enak nich diliatin orang banyak”, ujarku. “Kenapa gak enak nyantai aja lagi”, ujarnya. Aku langsung berhenti dia pun hanya melihatku. “Kak aku pergi”, ucapku lagi dan langsung ngacir pergi.

“Duch salting banget...”, ucapku dalam hati. “DORRRRRR”, Dina mengkagetkanku. “COPOT... COPOT...”, ucapku latah. “DINA”, ujarku gemas. “Cie... yang tadi jalan sama kak Ramon”, godanya. Aku langsung salting lagi, wajahku merona. “Gak din... tadi gak sengaja ketemu”, ujarku beralasan. “tuch baju dapat dari sapa?”, tanyanya. “Dipinjemin ma kak Ramon, kamu tau kan bajuku basah, gara-gara kejadian tadi”, balasku. Tiba-tiba raut muka Dina berubah. Aku tau itu. “Din... aku ganti baju dulu ya...”, jawabku. Dina hanya diam.

“Bajunya pas gak”, tanya seseorang. Saat lagi enak-enakan duduk ada yang memanggil, Saat aku menoleh, ternyata orang itu lagi. “Duch... kak Ramon kagetin aja dech kerjaannya”, ujarku sebal. Dia langsung mengambil posisi duduk di sebelahku. “Kalo muka mu sebal kayak gitu tambah manis aja”, godanya. Wajahku memerah. “Apalagi kalo malu-malu kayak gitu”, godanya lagi. Saat aku mau beranjak pergi, tangannya yang besar memegangku. “Jangan pergi”, ujarnya. Tapi langsung aku tepis dan pergi dari tempat itu. “Cewek yang menarik”, ujarnya. Dina tiba-tiba datang, “Mau kemana?”, tanyanya. “Pergi”, jawabku seenaknya. Saat dia menoleh ke arah Ramon, raut mukanya berubah lagi. Dan pergi meninggalkan tempat itu juga.

“Hei Man.... ngapain kamu duduk disini”, tanya Rei. Dia itu sahabatnya Ramon. “Gak ada apa-apa”, ujarnya. “Bo'ong tadi aku lihat kamu ngobrol ma cewek aneh itu (maksudnya aku)”, tanyanya. “ want to know aja...”, balasnya. “ U fall in love man,,,”, godanya lagi. “WHAT..”, jawabnya kaget. “Kalo mau ngelindur tidur dulu sana”, ucapnya lagi. “Aku gak ngelindur, aku gak pernah melihatmu kayak begini sebelum ini, cuma sekali saat kamu mengejar-kejar Intan dulu”, ucap Rei. “Jangan sebut nama itu lagi,,, Membuatku sakit aja”, ucap Ramon dingin. “ apa emank kayak gitu”, tanyanya pada sahabatnya. Saat aku baru jadian sama Ramon, aku tau Intan mantan pacar Ramon yang lima tahun lebih tua dari Ramon. Dia meninggalkan Ramon demi menikah dengan laki-laki lain.

Sepulangnya dari sekolah...

“Duch mana Dina”, gerutuku. Hampir 15 menit aku menuggu. “DrrtDrtDrt...”, suara HP ku bergetar, berarti ada sms masuk.

“DuCH M44f Y Sh3r
4q IkUT R4Pat Ch33rs N!ch
u PuLNg DuLU y....”

Sender : D!na LoV3Ly
Number : 085743561xxxx

Itu sms dari Dina, maklum aja dari SMP dulu Dina ikut jadi anggota cheerleader lagipula tuch anak emank cakep banget banyak cowok yang pengen jadikan Dina pacarnya. Jadi aku tau dech kalo dah masuk SMA pasti nerusin jadi anggota. Aku masuk SMU belum nemuin mau masuk ekskul apa... Saat aku mau beranjak dari tempatku menunggu Dina. “TIN...TIN...”, suara klakson mobil. “COPOT...COPOT..”, ucapku latah. “UKH.... MENYEBALKAN...”, runtukku dalam hati. Aku pun menoleh, ada yang turun dari mobil. “ Cantik banget “, ucapku terkagum. “ Eits... kuk aku kagum ma cewek, kan aku masih normal “, batinku. “ I'm so sorry, ka-mu ti-dak apa-apa”, tanyanya. “ oh.... gpp kuk, untung aku orangnya kuat”, ujarku narsis. “kamu anak baru ya...”, tanyaku lagi. Tapi kelihatanya agak bingung mungkin aku harus pura-pura gagap. “ ka-mu a-nak ba-ru ya..” tanyaku lagi. “ i-ya, ma-af aku bi-ca-ranya gak lan-car, ka-re-na aku baru pindah ke indo-nesia baru dua bu-lan”, jawabnya. Wah ribet amat ngomong ma anak ini repot amat ya.... “ anak mana sih tuh orang”, pikirku. “ kamu emangnya darimana? Where are you come from?”, tanyaku lagi. “Seol”, jawabnya. “ tapi kuk wajahmu bule “, tanyaku polos. “ oh... my daddy from indonesia but mommy from UK”, jawabnya. Tunggu “ sapa namamu”, tanyaku. “jasmin”, jawabnya. “aku, Sherry. Salam kenal ya....”, sambil berjabat tangan. “TIN.... TIN.....”, suara klakson. Ya ampun gara-gara kenalan yang antri keluar sampai segitu panjangnya. “ Udah Du-lu ya”, pamitnya. “ Hari yang aneh “, ujarku sambil berlalu.... to be continue...

Rabu, 12 Oktober 2011

MY DESTINY - bag. 1

Prolog.

Ini adalah awal perjumpaanku denganya. Takdir yang tak bisa aku hindari, takdir yang dipisahkan dengan takdir. Takdir yang tak terhapus oleh apapun.

Tanggal 26 Oktober 2010, peristiwa yang tak akan pernah terlupakan oleh sejarah pemikiran manusia. Peristiwa meletusnya gunung merapi. Selain itu juga peristiwa yang tak akan pernah terlupakan olehku. Sepanjang hidupku.



BAB I
AKHIR - 1

Tanggal 26 September 2010

“ AKU BILANG CUKUP”, teriakku dengan lantang. “Sher... dengarkan aku itu semua hanya salah paham”, belanya. Dia adalah Ramon, pacarku, tapi itu dulu... sekarang dia adalah seorang penghianat, menghianati rasa cinta dan sayang yang ku pupuk sejak 5 tahun yang lalu. Oya... namaku Shery aku seorang wanita yang menginginkan bahagia tapi sekarang aku merasa tersakiti dengan orang-orang disekitarku. Pacarku dan sahabatku berkhianat dibelakang ku dan itu membuat ku terluka. “Sher... dengarkan aku... please, can you hear me?” katanya sambil memegang tanganku dengan erat. Tapi aku tidak tinggal diam aku memberontak. Tapi apa daya kekuatan cowok dan cewek berbeda. “ Terus aku harus mendengarkan apa?, kamu tau semua bukti itu, kamu sudah melihat buktinya? Dina “HAMIL”, kataku mempertegas. Ku lihat dia begitu tercekat dan mengendurkan pegangannya, itulah kesempatanku untuk pergi tapi didepanku ada Dina menghalangiku, kamipun saling pandang, kuberanikan diri untuk bicara, “semoga kamu bahagia Din... dan selamat tinggal”, itu kata yang terlontar dari mulutku, akupun bergegas untuk pergi. Hari itu hari paling membuatku sedih sesudah hari kematian orang tuaku sejak 3 tahun yang lalu. Padahal kepada mereka berdua hidupku bergantung, Dina sudah ku anggap sebagai saudara sendiri, karena aku tidak mempunyai saudara, kata orang, ibu dan ayahku kawin lari karena pernikahan mereka tidak direstui, setiap aku tanya saudara-saudara orang tuaku, orang tuaku hanya membisu, kebisuannya dibawa hingga akhir hayat mereka. Tapi kenapa Dina tega menghianatiku, sahabatku sejak kecil. Dan Ramon, mungkin aku susah untuk memaafkan kalian untuk saat ini. “Aku harus pergi...” ucapku dalam hati

Tanggal 27 September 2010

“Sher... dipanggil big boz tuch....”, kata Nyoman. “ Eh... matamu kenapa kuk bengkak kayak gitu “, ucapnya lagi. “ ah... gak ada apa-apa kuk...” jawabku. “ Bo'ong tuch kayak orang habis tanding tinju paling”, goda Reni. Nyoman pun tertawa. “Ehm... tanding ma sapa hayo...”, goda Nyoman. “ Udah ah... jangan goda aku terus selesain dulu tugasmu itu yang gak beres-beres”, ucapku sebal. Nyoman dan Reni temen sekantorku. Aku baru kerja disini 2 tahun aku disini bertugas sebagai fashion stylish di salah satu majalah terkenal di ibukota. “Maaf Nyo... Ren... aku gak bisa ngasih tau alasan kenapa mataku bengkak”, ujarku dalam hati.
“tok.. tok... tok...”. “ Masuklah...” ujar orang yang didalam kantor. “ Ada apa bu... tadi Nyoman bilang ibu mencari saya”, ujarku. Dia adalah manajer diperusahaan ini namanya Bu Leni. “ Sudah kamu pertimbangkan tawaran yang aku beritahukan ke kamu”, ujarnya. Aku terdiam. “Sudah Bu...” jawabku setelah terdiam sesaat. “Tapi kamu tau konsekueninya kan?”. Tanyanya lagi. “Tau Bu...”, jawabku cepat. “Terus pernikahanmu?”, tanyanya. “Sudah saya batalkan”, jawabku. “Kenapa?”, tanyanya. “ Maaf Bu... saya tidak dapat cerita”, jawabku. “Kalau begitu 2 hari waktu yang cukup buat mempersiapkan semuanyakan”, tanyanya lagi. “Cukup”, jawabku. “Kalau begitu pulanglah”, perintahnya. “Baik... tapi saya minta permintaan”, tanyaku. “Boleh silakan”, jawabnya. “ Aku harap ibu tidak cerita ke siapa-siapa soal kepindahanku dari perusahaan ini”, pintaku. “ Kenapa”, tanyanya lagi. “ Ada hal yang tidak bisa saya ceritakan sekarang saya mohon maaf”, jawabku. “Baiklah... Pulang dan Istirahatlah...”, perintahnya. “Baik... dan Permisi”, undurku.
Bu Leni adalah sahabat orang tuaku. Mereka berteman sangat lama. Aku sudah menganggap dia sebagai ibuku sendiri. Aku masuk perusahan ini bukan hasil KKN, tapi hasil usahaku sendiri, bakat yang berasal dari ibuku yang dulunya seorang model.“Ada ap Sher....?”, tanya Reni. “ Gak ada apa-apa?” jawabku. “Mau kemana?”, tanyanya lagi. “ Pulang “, jawabku singkat, aku bergegas pergi sebelum ditanya yang aneh-aneh. “Shery kenapa?”,tanya Nyoman. “ tau tuch... kayaknya dia sakit... sakit karena stres mikirin deadline bulan depan”, jawab Reni asal. “oh.....” jawab Nyoman.
Sesampainya di rumah.....

Kulihat ada mobil Ferari merah milik Ramon terparkir di depan rumahku. Saat ku dekati, ternyata benar itu Ramon, sambil membawa boneka beruang sebesar anak kecil, bucket bunga mawar dan cokelat. Itu semua barang-barang yang kusukai, biasanya itu digunakan Ramon untuk membujukku saat aku merasa kesal dan sedih. “Tapi itu dulu Ramon... Aku sudah tak mengiinginkan barang itu lagi, aku tak butuh”. Ujarku dalam hati.
Aku teringat peristiwa 7 tahun yang lalu saat aku masih SMA. Ramon adalah senior satu tingkat diatasku. Aku berjumpa dengannya saat MOS sekolah. “AYO... SEMUANYA BERKUMPUL DI LAPANGAN. JANGAN LELET KAYAK KURA-KURA”, teriak seniorku. Aku dan Dina berlari, karena itu memang kesalahanku yang bangun telat. Meski berlari secepat apapun tetap saja terlambat, seperti yang kalian tau. Aku dapat hukuman. Aku dan Dina di suruh ke ruangan pendisiplinan. Ruangan itu yang sering aku kunjungi, karena tiap hari selalu telat. Tapi untuk Dina baru hari ini. Karena Dina pengen coba telat dan ketemu cowok cakep yang aku ceritakan kepadanya. Yaitu kak Ryan ketua OSIS di SMU Cinta Bangsa. He he he... the most wanted. Emang kak Ryan cakep banget kayak Takashi Kashiwabara, itu lo yang jadi Irie Naoki di Itazura na Kiss.
“Nama kamu siapa”, tanya salah satu senior. “Dina kak”, jawab Dina takut-takut. “ kamu.... oh kamu lagi....”, kata senior itu lagi. Ternyata dia hafal sama wajahku. “Kamu tiap hari telat terus... mau jadi apa kamu”, bentak senior itu, yang baru aku tahu namanya Rudi. Wajahnya garang banget. Anak kecil pasti takut liat wajahnya. ih.,... serem.... ujar dalam hati. “ Mon, tangani nich anak... bosan aku ngasih dia hukuman”, kata kak Rudi. “Apa... Nama panggilangnya.... Mon... MonSter... MonYet..... ih.... aneh....? ujar ku dalam hati. Tiba-tiba ada laki-laki yang mendekat ke arah ku dan Dina, saat kulihat wajahnya... ya Ampun ganteng banget kayak Robert Pattison... Gila gila gila... tapi aku langsung tersadar, saat kulihat Dina, Dina pun ikut-ikutan aneh, kayaknya langsung jatuh cinta. Love at First Sight...
“Oh... jadi kamu yang namanya Shery yang suka bikin masalah itu?”, ujarnya. “Iya kak”, jawabku gagap. “Kalau begitu, kamu harus diberi hukuman karena keterlamabatanmu”, ujarnya lagi. Tapi entah kenapa aku tidak terima saat dia memberi hukuman.”Setahuku kakak tidak pernah datang ke acara ini, kenapa kakak wajib memberiku hukuman, gak adil”, aku mencari alasan. “Kamu berani menantang senior ya...”, bentak temannya. Aku langsung terdiam. Ramon menenangkan situasi yang sempat tegang. “Udalah”, ujarnya. “Iya aku minta maaf, aku tidak bisa ikut karena ada urusan”, jawabnya. “tapi ini beda”, ujarnya lagi. Aku tiba-tiba hilang kekuatan, akhirnya memilih pasrah.”SIAL”........ runtukku dalam hati.
“KLONTANG...”, bunyi piring yang dibanting. “Gak usah marah kayak gitu dong Sher...”, kata Dina. “SEBEL.... aku bener-bener dikerjai ma senior-senior apalagi si Ramon SIALAN... awas aja dia...”, runtukku. “Ya... salah kamu sendiri telat... tau kalo MOS selalu ketat peraturannya. Makanya jangan telat”, ujar Dina. “Aku heran kenapa kamu membela mereka dibanding shabatmu ini?, tanyaku heran. “Jangan-jangan”, godaku. “Ssssttt diam dunk Sher jangan godain kayak gitu”, ujar Dina. “Habis aku heran aja, kamu suka ya... sama si MonSter Remon...”, Godaku lagi. Ternyata tebakan ku benar wajah Dina memerah. Tapi itulah kebodohanku, kenapa saat itu gak sadar lebih baik mundur daripada terjadi hal yang seperti ini. Akhinya MOS pun berlalu dan aku menjalani hidup sebagai siswi di SMU ku ini. to be continue....