BAB II
AKHIR – 2
Sejak MOS, namaku mulai terkenal, ini semua gara-gara aku sering telat terlambat. Bahkan di hari sekolah. “ Nona Pemalas “, orang-orang menyebutku begitu... “SIAL.....”, runtukku. Mungkin karena aku kebanyakan ngelamun, KEDUBRAK.... bunyinya keras banget, orang-orang yang semula di kelas pada berhamburan keluar. “SIAL.... KENAPA SIAL BANGET... SIAPA SICH YANG TARUH EMBER SEMBARANGAN....”, ujarku marah-marah. Tiba-tiba pak Parman datang “ Maaf non, tadi bapak kebelet”, ujarnya minta maaf. Itu pak Parman penjaga sekolah. “Aduh... Bapak... Liat nich bajuku basah semua gimana nich...”, ujarku jengkel. Karena liat wajah pak Parman aku jadi kasihan. “Ya udah bapak gak pa pa... Maaf ya pak... tadi aku kasar”, ujarku minta maaf, gak enak marah-marah ma orang tua. Orang-orang yang semula menonton akhirnya pada pergi semua. Tapi bajuku basah semua kalau pulang gawat juga bentar lagi pelajaran Bu Winda, mana orangnya KILLER lagi, kalo gak masuk lagi bisa-bisa masuk daftar BLACK LISTnya lagi, dan wajib ikut kelas tambahannya. “OH NO.....”, Batinku menejerit.
“Duch... gimana nich... basah...”, omelku. “Nich pake bajuku”, ada orang yang nawarin. “Ya ampun baik banget tuch orang”, ucapku dalam hati. Saat kulihat... “ Ramon”, ucapku terkejut. “Emang begitu kamu menyebut seniormu”, ucapnya. “Maaf kak...”, ucapku memelas. Ramon membantuku bangun, ya ampun malunya aku bajuku basah semua. “Pakai nich baju, aku bawa dua kuk”, tawarnya. Aku hanya diam. Diapun melihatku yang diam “Kalo gak mau ya udah”, tawarnya lagi dan berencana meninggalkanku. Tanpa ragu lagi aku langsung mengambil baju dari tangannya, diapun hanya tersenyum. “ Kuk bisa kamu basah kayak gitu”, tanyanya. “Ah... itu”, ucapku bingung. “Itu terjadi karena aku gak hati-hati aja”, balasku. Kami berdua berjalan di koridor, banyak siswa yang cemburu melihat ku jalan berdua dengan Ramon, maklum Ramon juga salah satu MOST WANTED di SMU Cinta Bangsa. “Kak... mending aku jalan sendirian dech... gak enak nich diliatin orang banyak”, ujarku. “Kenapa gak enak nyantai aja lagi”, ujarnya. Aku langsung berhenti dia pun hanya melihatku. “Kak aku pergi”, ucapku lagi dan langsung ngacir pergi.
“Duch salting banget...”, ucapku dalam hati. “DORRRRRR”, Dina mengkagetkanku. “COPOT... COPOT...”, ucapku latah. “DINA”, ujarku gemas. “Cie... yang tadi jalan sama kak Ramon”, godanya. Aku langsung salting lagi, wajahku merona. “Gak din... tadi gak sengaja ketemu”, ujarku beralasan. “tuch baju dapat dari sapa?”, tanyanya. “Dipinjemin ma kak Ramon, kamu tau kan bajuku basah, gara-gara kejadian tadi”, balasku. Tiba-tiba raut muka Dina berubah. Aku tau itu. “Din... aku ganti baju dulu ya...”, jawabku. Dina hanya diam.
“Bajunya pas gak”, tanya seseorang. Saat lagi enak-enakan duduk ada yang memanggil, Saat aku menoleh, ternyata orang itu lagi. “Duch... kak Ramon kagetin aja dech kerjaannya”, ujarku sebal. Dia langsung mengambil posisi duduk di sebelahku. “Kalo muka mu sebal kayak gitu tambah manis aja”, godanya. Wajahku memerah. “Apalagi kalo malu-malu kayak gitu”, godanya lagi. Saat aku mau beranjak pergi, tangannya yang besar memegangku. “Jangan pergi”, ujarnya. Tapi langsung aku tepis dan pergi dari tempat itu. “Cewek yang menarik”, ujarnya. Dina tiba-tiba datang, “Mau kemana?”, tanyanya. “Pergi”, jawabku seenaknya. Saat dia menoleh ke arah Ramon, raut mukanya berubah lagi. Dan pergi meninggalkan tempat itu juga.
“Hei Man.... ngapain kamu duduk disini”, tanya Rei. Dia itu sahabatnya Ramon. “Gak ada apa-apa”, ujarnya. “Bo'ong tadi aku lihat kamu ngobrol ma cewek aneh itu (maksudnya aku)”, tanyanya. “ want to know aja...”, balasnya. “ U fall in love man,,,”, godanya lagi. “WHAT..”, jawabnya kaget. “Kalo mau ngelindur tidur dulu sana”, ucapnya lagi. “Aku gak ngelindur, aku gak pernah melihatmu kayak begini sebelum ini, cuma sekali saat kamu mengejar-kejar Intan dulu”, ucap Rei. “Jangan sebut nama itu lagi,,, Membuatku sakit aja”, ucap Ramon dingin. “ apa emank kayak gitu”, tanyanya pada sahabatnya. Saat aku baru jadian sama Ramon, aku tau Intan mantan pacar Ramon yang lima tahun lebih tua dari Ramon. Dia meninggalkan Ramon demi menikah dengan laki-laki lain.
Sepulangnya dari sekolah...
“Duch mana Dina”, gerutuku. Hampir 15 menit aku menuggu. “DrrtDrtDrt...”, suara HP ku bergetar, berarti ada sms masuk.
“DuCH M44f Y Sh3r
4q IkUT R4Pat Ch33rs N!ch
u PuLNg DuLU y....”
Sender : D!na LoV3Ly
Number : 085743561xxxx
Itu sms dari Dina, maklum aja dari SMP dulu Dina ikut jadi anggota cheerleader lagipula tuch anak emank cakep banget banyak cowok yang pengen jadikan Dina pacarnya. Jadi aku tau dech kalo dah masuk SMA pasti nerusin jadi anggota. Aku masuk SMU belum nemuin mau masuk ekskul apa... Saat aku mau beranjak dari tempatku menunggu Dina. “TIN...TIN...”, suara klakson mobil. “COPOT...COPOT..”, ucapku latah. “UKH.... MENYEBALKAN...”, runtukku dalam hati. Aku pun menoleh, ada yang turun dari mobil. “ Cantik banget “, ucapku terkagum. “ Eits... kuk aku kagum ma cewek, kan aku masih normal “, batinku. “ I'm so sorry, ka-mu ti-dak apa-apa”, tanyanya. “ oh.... gpp kuk, untung aku orangnya kuat”, ujarku narsis. “kamu anak baru ya...”, tanyaku lagi. Tapi kelihatanya agak bingung mungkin aku harus pura-pura gagap. “ ka-mu a-nak ba-ru ya..” tanyaku lagi. “ i-ya, ma-af aku bi-ca-ranya gak lan-car, ka-re-na aku baru pindah ke indo-nesia baru dua bu-lan”, jawabnya. Wah ribet amat ngomong ma anak ini repot amat ya.... “ anak mana sih tuh orang”, pikirku. “ kamu emangnya darimana? Where are you come from?”, tanyaku lagi. “Seol”, jawabnya. “ tapi kuk wajahmu bule “, tanyaku polos. “ oh... my daddy from indonesia but mommy from UK”, jawabnya. Tunggu “ sapa namamu”, tanyaku. “jasmin”, jawabnya. “aku, Sherry. Salam kenal ya....”, sambil berjabat tangan. “TIN.... TIN.....”, suara klakson. Ya ampun gara-gara kenalan yang antri keluar sampai segitu panjangnya. “ Udah Du-lu ya”, pamitnya. “ Hari yang aneh “, ujarku sambil berlalu.... to be continue...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar